muarapemikirankampus-muarapemikirankampus-muarapemikirankampus-muarapemikirankampus

Ada Monster di Perut Pacarku

>> Kamis, Oktober 13, 2011



Ia menangis. Menangis sesenggukan. Menandingi suara hujan deras sore ini. Menyaingi gelegar petir-petir kecil. Tidak memekakkan tetapi cukup memilukan. Sama pilunya dengan perasaanku detik ini. Menyaksikan gadisku menangis. Padahal di luar suara anak-anak bahagia, ramai bermain hujan, berkecipakan berlari diantara genangan air.
Kutatap gadisku. Berkali-kali dihapus air matanya dengan punggung tangannya yang lentik. Tangan yang selama ini selalu mengusap lembut pundakku. Tangan yang selalu menggenggam jemariku, seolah ia tak butuh pegangan lain. Tangan yang setia menepukku dengan sayang ketika aku melakukan kelalaian. Tangan indah dari Tuhan.
Kini ia terpuruk tak berdaya. Wajah manisnya tenggelam diantara kedua lututnya. Senyum indahnya lenyap. Rambut sebahunya acak-acakkan tak karuan. Nafasya tersengal-sengal akibat tangisannya sejak sore tadi. Setelah kepergian kami ke kota kelahirannya.
Lalu apa yang kulakukan saat ini. Tak ada. Aku bingung. Ikut meratap. Menyaksikan gadisku menangis.
                                                      ***
Solo mungkin adalah jodohku. Bukan karena di sini tempatku bertemu dan menjalin kasih dengan gadisku, bukan pula karena di sini tempat teraihnya mimpi-mimpiku. Melainkan memang karena aku merasa ada ikatan batin dengan Solo Sang Kota Budaya. Solo yang sedang memanggul tugas sebagai sumber semangatnya Jawa. Solo Spirit of Java. Solo yang menjadi tujuan para turis. Solo yang menjadi salah satu asset termahal yang dimiliki Indonesia. Solo yang ini, yang sekarang kutinggali.
Tak pernah terpikirkan selintas pun olehku bahwa Solo akan menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak lahir di sini, tidak besar di sini, tidak pula pernah menimba ilmu formal di sini. Berbeda dengan teman-teman sekantorku yang beberapa memang berasal dari Solo dan sekitarnya, atau juga pernah kuliah di Solo. Aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan Solo sebelumnya.
Hampir dua tahun aku tinggal di sini, yang airnya menghidupiku, yang udaranya sumber nafasku, yang tanahnya tempat menjejakku. Solo seolah dengan tangan terbuka menerimaku sebagai salah satu anaknya. Solo yang eksotis.
Di bis menuju Solo setahun yang lalu itulah, aku bertemu gadisku. Di suatu siang terik yang terasa memanggang seluruh isi bis tanpa AC ini. Ada yang berdesir di dada ketika supir dengan seenaknya saja menyalip truk gandeng bermuatan gulungan kertas berukuran besar di depan. Istighfar, sumpah serapah dan makian lalu terlontar dari bibir para penumpang.
Di sebelahku, duduk seorang gadis yang hanya diam sembari mengelus dadanya, dari mulutnya terdengar menggumam sesuatu. Aku menoleh ke arah jendela, sembari mencuri pandang ke arah gadis ini. Beberapa detik kemudian diusapnya keringat di dahinya dengan punggung tangannya.
Bert-shirt hijau muda, bercelana jins, rambut dikuncir, memangku tas coklat kecil, bersandal jepit, mengenggam MP4 di tangan dengan headset yang terpasang di kedua telinganya.
“Kuliah mbak?” Tebakku, sok kenal. Mencoba berkenalan.
Ia menoleh, melepas headset di telinga kirinya, “Ya?”
Kulanjutkan lagi pertanyaaku.
Ia tersenyum mengangguk. “Iya.” Kali itu kulihat wajah ayunya. Wajah yang bersih tanpa make up.
 “Ambil apa?”
“Pendidikan Bahasa Indonesia.”
“Ooo…calon guru…” Ia tersenyum, “semester berapa?”
“Dua. Baru masuk tahun ini.” Jawabnya masih dengan senyum.
Kami kembali terdiam. Tapi tidak beberapa lama, ia melihatku. “Masnya? Kuliah juga?” Tanyanya. Jelas sekali berbasa-basi, mencoba menghindari dikira sombong.
“Kerja. Moso saya masih keliatan kaya anak kuliahan.” Aku mencoba bercanda.
Ia tersenyum. Lesung pipit samar nampak di kedua pipinya. Matanya ternyata bulat dengan kedua alis yang samar-samar menyatu.
“Kerja dimana?” Tanyanya lagi.
“Harian pagi di Solo.”
“Wah, wartawan dong..” Lanjutnya. Aku hanya tersenyum.
Percakapan kami sampai di situ. Sampai bis tiba di Tirtonadi, tak ada percakapan lagi, selain kata “Mari” dari kami. Lalu kami berpisah.
Nyatanya, tidak sampai di situ. Oleh Tuhan, melalui kuasa semesta dua orang anak manusia dipertemukan lagi. Beberapa kali secara kebetulan. Benar-benar sangat kebetulan. Sedangkan yang lainnya memang aku sengaja. Karena kemudian dari situlah pertemuan-pertemuan kami berlanjut. Selalu sengaja kuluangkan waktu diantara padatnya jadwal pekerjaanku hanya sekedar untuk mengajaknya makan. Mengajaknya jalan-jalan. Mengunjunginya di kosnya. Kadang-kadang juga nonton.
Entahlah, aku merasa bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamanya. Bisa apa adanya. Gadisku pun demikian, selalu menerimaku apa adanya.
                                                      ***
Telah setahun akhirnya hubungan kami terjalani dengan sempurna. Sampai akhirnya di suatu senja gadisku datang dari kota kelahirannya. Dia menangis. Aku yang baru pulang dari kantor, mendapatinya terisak di depan kamar kosku.
“Gadisku, kenapa?” Langsung kupeluk gadisku itu.
Tangisnya jadi makin pecah. Dipeluknya aku makin erat.
Setelah ia mulai bisa tenang di dalam kosku, ia mulai bercerita. Diusapnya sekejap air matanya.
“Aku mau kita nikah.”
“Ha??” Aku tersentak., “maksudmu?”
“Iya… aku mau kita nikah.” Gadisku lalu mulai menangis lagi.
“Ada apa sih ini….” Kataku gusar.
Dengan terbata-bata, gadisku mulai bercerita. Orang tua yang selama ini dan sampai kapanpun dihormatinya, selalu dibanggakannya di depanku mendadak menjadi orang yang paling gadisku benci. Percik amarah benar-benar nampak di kedua mata bulatnya. Kedua tangannya menggenggam, menandakan ia sedang sangat sakit hati. Wajah ayunya memerah.
“Aku akan dijodohkan dan aku tidak bisa menolaknya.”
Aku hanya terdiam. Rasa sakit mendadak terasa di ulu hatiku.
“Kamu ga bilang kalo kamu sudah punya aku?” Tanyaku pelan. Mencoba meredam rasa sakitku.
“Sudah. Aku bersikeras aku punya kamu.” Katanya tersengal-sengal. Kedua tanggannya terus mengusap air matanya.
“Lalu?” Tanyaku retoris.
Gadisku menangis lagi.
Gila. Ini jaman sudah jaman demokrasi. Dimana semua orang bebas menentukan pilihannnya. Presiden saja dipilih langsung. Tapi kenapa masih ada saja hal remeh semacam ini. Apa mereka tidak bisa belajar dari Siti Nurbaya, yang tidak bahagia karena begitu besar rasa hormatannya pada orang tuanya. Aku menghembuskan nafas panjangku. Gadisku masih menangis. Wajahnya benar-benar lelah. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis seperi ini. Yang sungguh berbeda dengan tangisanya ketika kami menonton film drama. Yang sungguh berbeda ketika ia menangis bahagia, karena salah satu tulisannya dimuat di media. Tangis gadisku yang sedang merintih sakit.
“Kamu gak minggat dari rumah kan?” Tanyaku hati-hati. Selintas pikiran buruk muncul dibenakku.
Ia menggeleng. Syukurlah.
“Lalu…kita mesti gimana?” Tanyanya menatapku.
Aku mendadak beku. Menikah? Gila gadisku… aku belum punya apa-apa…
“Kamu nikahi aku ya…”
Aku menahan napas. Gadisku menatapku penuh pengharapan.
“Kamu belum lulus, aku juga baru beberapa tahun kerja. Aku masih belum siap kalau harus menghidupimu. Lagi pula aku yakin, orang tuamu pasti tidak setuju.” Kataku hati-hati.
Ia menangis lagi. “Lalu kamu akan diam saja kalo akhirnya aku menikah dengan orang lain?” Katanya.
Aku kembali beku. Tentu saja tidak, gadisku. Aku menginginkamu. Sangat menginginkamu. Tapi kalau sekarang aku belum bisa. Aku melihat gadisku, ia masih mentapku menunggu jawabanku.
“Kita berusaha dulu meyakinkan orang tuamu, pasti bisa. Percaya aku.” Jawabku sembari mengenggam jemarinya.
Ragu-ragu, akhirnya gadisku pun mengangguk. Tangisnya parlahan reda. Ia mungkin percaya padaku. Tapi aku sendiri justru malah ragu.
                                                      ***
“Kamu gila! Kamu sudah gila gadisku!” Aku berteriak menanggapi usul gila gadisku.
Sore itu, kami pulang dari kota gadisku. Setelah menemui orang tuanya. Aku beritikad melamarnya. Atas desakan gadisku tentunya. Juga untuk menunaikan kewajibanku sebagai lelaki bertanggung jawab, seperti yang selalu diajarkan orang tuaku. Serta melepaskan segala keegoisanku, demi gadisku. Juga karena aku memang menginginkannya.
Dengan berbekal tekad aku datang menemui orang tuanya. Dengan rendah hati menyampaikan maksudku untuk melamar putri sulung mereka. Sambutan mereka pun sungguh sangat baik. Benar-benar sangat baik. Justru karena itulah, aku menjadi tidak enak hati untuk menyakiti mereka. Mereka memang menolak lamaranku untuk putri mereka, tetapi dengan halus. Dengan sopan, tanpa menyinggungku. Mereka bilang, mereka pun tidak enak padaku. Karena sudah terlanjur menjodohkan gadisku. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu, mereka mempunyai pilihan, seperti yang dikatakan gadisku padaku.
Dadaku sesak saat itu. Sakit. Tapi di lain pihak, aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin aku menyakiti orang yang sangat menyayangi gadisku, sampai-sampai mereka harus mengatur hidupnya. Sungguh ironis.
Aku pun mengalah. Menerima semua nasib hidupku bila memang tidak berjodoh dengan gadisku. Tapi gadisku menangis. Selama perjalanan pulang ke kota budaya ini, dia terus-terusan menangis. Tidak terima dengan sikap pasrahku. Padahal tentu saja, aku juga sakit. Karena aku sungguh sangat menginginkannya. Aku mencintainya.
“Kalo kamu cinta, kalo kamu menginginkan aku kenapa kamu gak mau memperjuangkan aku? Kamu gak serius ya?” katanya kesal dengan suara parau.
“Aku sudah datang pada orang tuamu, lalu melamarmu, berniat memperistrimu. Apa itu yang kamu bilang gak serius. Aku sangat menginginkanmu, sampai detik ini masih mencintaimu gadisku.” jawabku penuh tekanan.
“Lalu kamu kenapa gak memperjuangkanku. Kamu pasrah saja…” gadisku terisak lagi.
“Kalau kita memang jodoh, kita pasti akan bersatu.” kataku singkat. Kugenggam tangan gadisku, mencoba membuatnya percaya padaku. Bahwa aku sangat mencintainya, selalu menginginkannya.
Mendadak gadisku mengusap tangisnya tegas. Perlahan senyum mengembang di wajahnya yang memunculkan lagi samar lesung pipitnya itu. “Kita buat agar orang tuaku menyetujui hubungan kita. Mengijinkan pernikahan kita.”
“Maksudmu?” selintas pikiran buruk muncul di benakku.
Gadisku mengangguk tegas. Digenggamnya kedua tanganku. “Iya, kita buat agar orang tuaku mau tidak mau harus mau mengijinkan pernikahan kita.” ucapannya mengartikan sesuatu.
“Kamu gila!” Ucapku tegas, sembari menyentakkan genganggamannya.
“Tidak ada jalan lain, aku sangat menginginkan kamu.” lanjutnya dengan kembali menggenggam tanganku lagi.
“Kamu gila gadisku!! Kamu sudah gila! Kamu tau apa akibatnya nanti?”
“Justru itu yang aku harapkan. Aku ingin hamil. Aku ingin agar orang tuaku tidak memaksaku menikah kecuali denganmu.”
“Ini benar-benar ide gila. Aku tidak setuju. Tidak akan pernah setuju,” tolakku tegas.
Sayangnya, ucapanku yang terakhir kembali menghadirkan duka di mata gadisku. Ia menangis lagi. Sesenggukan. Melepaskan genggamannya. Duduk terpekur seolah merutuki dirinya kenapa ia harus bertemu aku, sampai ia mencintaiku, bahkan menginginkanku. Ia mungkin menyesal. 
Petir-petir kecil menggelegar menyertai hujan deras sore ini. Di luar, suara anak-anak bahagia, ramai bermain hujan, berkecipakan berlari diantara genangan air. Sedangkan di sini kami sama-sama tersakiti. Terpuruk tak berdaya atas garis hidup Tuhan. Dan tentu saja, aku tak sanggup melihat gadisku seperti ini.
                                                      ***
Lalu kali ini, aku bingung. Haruskah senang atau sedih ketika menerima kabar dari gadisku.
“Akhirnya kamu akan jadi bapak.” katanya riang di telepon.
Aku hanya diam. Sebelumnya memang aku sudah bisa membayangkan resiko apa yang harus kujalani. Tapi kali ini, mendadak semua menjadi kusesali. Pengorbananku terasa sangat besar ketika hanya ini yang kudapatkan. Tak ada kepuasaan yang kurasakan. Aku mendadak membenci gadisku. Yang menjerumuskanku ke jurang neraka, demi keegoisannya, pula keegoisanku semata.
Aku ragu, mungkin bukan anakku yang ada di perutnya. Tapi monster. Yang mengerikan. Yang mengharuskanku melanggar hati nurani hanya untuk mendapatkannya. Hanya untuk bisa bersama dengan gadisku saja. Ya… ada monster di perut pacarku.
Dan kini aku harus mengakui monster itu sebagai anakku. Yang cepat atau lambat harus kuhidupi ia dengan kerja keraskuku. Karena monster itu adalah memang anakku.



Alina Dewi Hartanti
Staff Kaderisasi 10/11


Read more...

KAMPANYE SEBAGAI WUJUD IKLAN POLITIK TERKAIT MUTU REALITAS ATAUKAH SEKEDAR IDEALISME?


Oleh: Rhesa Zuhriya B. P.

Segala sesuatu tidak akan didapat dengan begitu mudahnya tanpa adanya kekuasaan dan kewenangan. Kekuasaan dalam konteksnya mampu memberikan sebuah keleluasaan yang penuh dalam mengembangkan kemauan guna mencapai tujuan yang diinginkan. Terlebih lagi, apabila hal ini berkutat dalam bidang politik yang notabene sangat berkaitan erat dengan apa yang disebut kekuasaan.
Terkait dengan gejala di atas, politik bukan hanya menciptakan tokoh-tokoh yang memiliki kekuasaan dan kewenangan, tetapi juga menawarkan adanya kelebihan yang memang lebih menjanjikan guna menjamin kehidupan yang lebih baik bagi pelakunya—tak terkecuali adanya kelebihan dalam bidang ekonomi atau finansial. Terlepas dari hal itu, tentunya penawaran ini bukan hanya menjadi suatu hal yang tidak mungkin untuk dicapai, tetapi justru memicu adanya persaingan yang dilancarkan dalam mencapai keinginan tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan guna mencapai penawaran ini adalah dengan menjadi sosok ataupun figur dalam dunia politik yang mampu mengumpulkan berbagai dukungan dan simpati dari rakyat. Untuk itu, diperlukan pula metode, instrumen, maupun strategi dalam menampilkan dan memperjuangkan idealisme serta prinsip yang dianut, yaitu kampanye.
Berbicara tentang istilah kampanye, tentunya kita akan disuguhkan dengan berbagai macam sajian dan penawaran terkait dengan segala sesuatu yang memperjuangkan kelebihan. Terlebih terjadi pada apa yang kita ketahui sebagai kampanye politik. Baik kampanye partai politik (parpol), kampanye capres-cawapres, maupun pada kampanye pemilihan walikota. Namun, apakah kampanye-kampanye ini memang digunakan dengan maksud untuk memperjuangkan apa yang lebih dan baik untuk diperjuangkan?
Dalam konteks ini, haruslah diperhatikan mengenai apa yang disebut dengan sesuatu yang harus diperjuangkan dalam kampanye. Entah apa yang disebut dengan sesuatu yang harus diperjuangkan itu bersifat prinsipiil ataukah hanya sekedar keinginan belaka guna menarik dukungan dan simpati publik. Tak dapat dipungkiri bahwa kampanye merupakan suatu instrumen yang tak akan lepas dari adanya persuasi politik dan kekuasaan. Faktanya, hal ini membaur pula dengan adanya advertensi yang cenderung manipulatif—selayaknya iklan atau pariwara komersial.
Merujuk pada tujuan umum kampanye politik adalah menampilkan serta mempromosikan tentang apa yang dianggap menjadi kelebihan dari masing-masing subjek kampanye agar mendapat simpati dari pemilih. Tentunya hal ini ditampilkan dengan kemasan sedemikian rupa guna menarik serta meyakinkan khalayak pemilih untuk dapat memberikan suaranya dalam pemilihan. Selain itu, kampanye dapat pula dikatakan sebagai upaya ataupun usaha yang terorganisir guna mempengaruhi proses pengambilan keputusan bagi pemilih dalam menentukan pilihan maupun suaranya dalam pemilihan. Menggarisbawahi adanya kemasan sedemikian rupa dalam penyampaian kampanye, tentunya dapat disimpulkan bahwa kampanye memang serupa dengan iklan komersial yang dapat membius masyarakat dalam waktu sekejap. Akan tetapi, perlu ditekankan pula bahwa secara esensial, kampanye—melalui iklan politik—lebih bersifat mendasar daripada iklan komersial. Perlu diketahui bahwa tokoh dan lembaga politik—yang menjadi subjek dan komoditas politik—akan bertugas dalam menerima serta menyalurkan berbagai aspirasi dan kritikan dari rakyat. Dengan kata lain, komoditas politik ini secara langsung akan berhubungan dengan rakyat dan segala permasalahannya. Untuk itu, tentunya kekuasaan serta kewenangan yang diharapkan dimiliki oleh tokoh dan lembaga politik (melalui kampanye dalam iklan politik) akan sangat menentukan masa depan bangsa.
Tak terlepas dari hal tersebut di atas, apakah dalam praktiknya sudah dapat berjalan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Katakanlah segala yang tidak mungkin, tentunya menjadi mungkin melalui iklan politik yang memikat. Mulai dari menampilkan berbagai kelebihan figur yang diinginkan, menggoda dengan segala idealisme yang ditawarkan, bahkan sampai menggiring persepsi masing-masing individu dalam menciptakan sosok pemimpin yang berkarisma. Sekali lagi tak dapat dipungkiri bahwa kampanye yang dilakukan melalui iklan politik sangat menentukan berhasil tidaknya misi politik yang diperjuangkan. Tanpa mengurangi esensi dan substansi dari makna kampanye itu sendiri, tentunya publik sebagai objek dari kampanye harus mampu menyerapnya dengan baik. Adanya iklan politik dapat menjadi sarana terbaik dalam membentuk pandangan masyarakat, baik secara pro dalam mendukung subjek politik yang ditampilkan, maupun menjadi oposisi dan melemahkan subjek politik lainnya.
Fenomena ini bukan hanya sekedar selingan bagi masyarakat yang cenderung hanya menerima sosok pemimpin yang diidamkan apa adanya. Tentunya, gejala ini harus dapat diminimalisir dengan adanya pengetahuan yang lebih bagi masyarakat guna memperoleh tokoh yang baik luar dalam. Bukan terletak dari adanya persuasi yang menjanjikan, tetapi lebih pada adanya pertimbangan dan pandangan menyeluruh mengenai apa yang memang benar untuk diterapkan.  Bukan hanya sekedar menerima dan berkata “ya” pada persuasi golongan berkepentingan yang cenderung dominan, tetapi justru harus lebih bersikap kritis pada apa yang disampaikan dengan adanya pemfilteran yang telah disesuaikan dengan segala idealisme terkait realitas kehidupan. Melalui upaya ini, masyarakat pun akan lebih terbiasa dalam bersikap kritis dan realistis dalam menanggapi segala bentuk pengaruh.
Di samping itu, bukan berarti para pelaku kampanye dalam iklan politik ini dapat dengan leluasa menyerang melalui segala celah yang memungkinkann. Bukan berarti pula masyarakat akan dengan diam dan menunggu adanya perubahan. Terkait dengan berbagai macam revolusi yang berujung pada munculnya reformasi, hal tersebut dapat dijadikan bukti tentang adanya kritisasi dari rakyat—khususnya mahasiswa. Untuk itu, sebagai agent of change, rakyat (terutama mahasiswa) pun harus mampu melahirkan adanya semangat perubahan sebagai wujud dari kontrol sosial yang mengawasi kekuasaan pemerintah—terutama dalam memperjuangkan aspirasi dan kritisasi sehubungan dengan realitas idealisme yang telah ditawarkan.

 REFERENSI
Anonim. 2008. Iklan Politik dan Nasib Suatu Bangsa. www.kompas.com. Diakses tanggal 18 Maret 2008

Read more...

Aku

>> Senin, Juni 13, 2011

oleh: GALUH PANCAWATI

Aku menginginkan apa yang tak seharusnya, 
aku berharap terlalu tinggi dan entah mengapa aku tak bisa menghentikan mimpi-mimpi yang berkeliaran bebas di otakku,
mereka bersekutu dengan lemahnya hatiku, memberontak lepas melawan kewarasan pikir dan raga. 

Aku hanya bisa menertawai diriku yang konyol ini, 
aku hanya berharap aku bisa kembali bangun dari tidurku 
dengan bunga mimpi yang begitu melenakan ini.. 

Aku mengasihani diriku sendiri, menerawang sepi, 
apa yang membuatku bisa segila ini. 
Aku melupakan kewarasan, 
aku menghilang dari realita hidup yang jauh dari apa yang aku impikan. 

Panggil aku si pengkhayal yang punya sejuta mimpi, 
panggil aku pemimpi yang menghabiskan tahunan hidupku untuk menggapainya 
dan tak ada yang bisa aku sentuh, satu inci pun, 
aku tidak bisa lebih dekat dengannya. 

Panggil aku manusia yang tak tahu malu kepada Tuhannya, 
panggil aku manusia yang tak tau cara berterimakasih dengan apa yang telah Tuhan beri.


gambar dari sini

Read more...

Dan Akan Selalu Ada Jalan…

>> Selasa, Oktober 26, 2010

Oleh : Alina Dewi Hartanti

Mungkin, seorang Thomas Alfa Edison tidak akan tahu bahwa percobaan kecil di laboratoriumnya akan menjadikannya seorang manusia yang terkenal. Dia tidak akan tahu bahwa temuannya berupa bola lampu mampu mengubah peradaban. Begitu pula Newton, bahwa mengenai hukum gravitasi yang ia temukan telah menjadikannya sebagai orang yang patut diingat sepanjang masa. Adapula Van Bethooven, kejeniusannya dalam mengaransemen lagu membuat semua orang tak ada yang tak tahu namanya. Juga, bukan suatu kebetulan juga jika Wilbur dan 0. Wright mewujudkan manusia untuk terbang di langit dengan menemukan yang namanya pesawat terbang.
Lalu apa persamaan dari semua itu? Ya, semuanya orang-orang hebat, dalam bidangnya masing-masing tentunya, semuanya dikenal, semuanya dianggap sebagai pionir-pionir peradaban. Dan mungkin, satu lagi kesamaan mereka, mereka semua berangkat dari seorang pekerja keras hingga akhirnya temuan mereka membuktikan eksistensi mereka.
Ada yang bilang, harapan, keinginan, cita-cita akan tercapai apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras. Saya selalu percaya, itu mutlak terjadi. Tak pernah ada yang sia-sia, karena apa yang telah kita korbankan selalu ada harganya. Edison mengerahkan segenap upayanya untuk penemuannya, dan dia mungkin pada saat itu tidak mengetahui dampak apa yang bisa disebabkan oleh penemuan kecilnya. Dia tidak pernah tahu, bahwa ratusan tahun kemudian berkat jasanya bumi menjadi terang, seterang harapannya dulu atas segala kerja kerasnya.
Lalu bukankah hal yang tidak mustahil jika kita kemudian meniru semangat mereka. Meniru semangat mereka dalam mengerahkan segenap upayanya demi penemuan mereka, yang dalam hal ini demi kesejahteraan bersama. Meniru kerja keras mereka demi mewujudkan impian mereka. Tak perlulah muluk-muluk penemuan besear sepeti mereka, tetapi dengan bekerja keras terhadap apa yang sudah ada ditangan dan gigih mengupayakan serta mewujudkannya dengan sungguh-sungguh akan sangat luar biasa bila dibandingkan hanya berdiam diri menunggu nasib. Benar, manusia memang akan mati. Tapi, bukankah akan lebih indah mengisi kehidupan sebelum mati itu dengan melakukan sesuatu yang berguna, tidak menyerah begitu saja pada keadaan.
Ya, meskipun terkadang kepentok tiang, ada lubang, bahkan terhalang tembok, bukan berarti berhenti, tidak berjalan lagi. Bukan berarti juga sudah tidak ada jalan. Selalu ada jalan, meski harus memutar lebih jauh lagi. Dan akan selalu ada jalan.

Read more...

ADHITAKARYA MAHATVAVIRYA NAGARA BHAKTI

>> Rabu, Oktober 20, 2010

Oleh Nosi

Banyak hal yang aku alami disini, tentang persahabatan, kedisiplinan, kepatuhan, rasa hormat, jiwa korsa, nasionalisme, perjuangan, dan banyak hal lagi. Yang aku tahu empat tahun pendidikanku disini rasanya seperti satu perjalanan tersendiri yang memberi warna dalam hidupku. Satu keputusan besar yang benar-benar menentukan hidupku setelah itu.
Empat tahun lalu, Ibu, perempuan tengah baya yang dua puluh tiga tahun yang lalu rela meminjamkan rahimnya untuk kelahiranku, memintaku untuk mengikuti tes seleksi masuk Akademi Militer (Akmil) yang ada di Magelang. Awalnya tak pernah terlintas sedikitpun di pikiranku untuk terjun ke dunia militer seperti ini. Bapak tidak berasal dari kalangan itu apalagi Ibu yang seumur hidupnya habis di depan mesin jahit memenuhi permintaan pelanggannya. Ibu seorang penjahit pakaian di rumah sederhana kami di kota Atlas ini.
Mungkin satu-satunya alasan ibu menginginkanku menjadi militer karena kesedihannya yang ditinggalkan bapak saat masa perjuangan dulu. Bapak adalah seorang petani kecil yang saat itu tertembak penjajah saat terjadinya pertempuran lima hari di Semarang.
Empat tahun berlalu penuh cerita. Cerita tentang seorang taruna Akmil yang menjalani semua nasib karena Ibunya. Seorang taruna Akmil teratasnama Adhitakarya Mahatvavirya Nagara Bhakti. Sebuah nama yang aku anggap terlalu berlebihan. Aku bukan anak jenderal. Aku bukan anak perwira lulusan akademi, aku anak orang biasa yang bermimpi menjadi taruna dan lulus sebagai perwira pada akhirnya.
Dan hari ini adalah hari terakhirku di kota ini, hari terakhirku menjadi seorang taruna. Masih segar dalam ingatanku ketika empat tahun lalu aku datang ke kota ini mengikuti masa orientasi selama dua pekan sebelum memasuki tahapan Pendidikan Keprajuritan Chandradimuka. Kala itu salah satu Pejabat Komandan Resimen Taruna berkata, “Tujuan masa orientasi adalah untuk memperkenalkan Lembaga dan kehidupan Korps taruna sebagai bekal Capratar dalam menyesuaikan diri dalam menempuh pendidikan selanjutnya serta menanamkan semangat dan jiwa korsa dalam kehidupan Korps taruna sehingga membantu terciptanya kehidupan Korps taruna yang sehat, dinamis dan kreatif. ”
Aku tersenyum mengingatnya, rasanya baru kemarin telingaku menangkap kalimat itu. Saat dimana pertama kali dalam hidup aku mengenakan baret. Baret merupakan suatu kebanggaan bagi suatu unit. Pembaretan dilakukan oleh Taruna senior kepada Taruna yunior yang akan memasuki Resimen Korps Taruna. Dengan pembaretan ini akan tumbuh sikap dan tindakan yang selalu menjaga nama baik dan kehormatan Korps Taruna.
Aku tak bisa menghentikan laju ingatanku yang terlalu segar, lebih tepatnya aku terlalu enggan melepaskan kenangan-kenangan yang menjadikanku seperti saat ini. Setelah mengikuti masa orientasi itu dan sebelum melanjutkan Pendidikan Dasar Keprajuritan Taruna Akademi TNI Chandradimuka, diadakan Kirab di Kota Magelang. Kata Abang tingkatku kirab ini bertujuan untuk memperkenalkan diri sekaligus sebagai pernyataan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Magelang untuk dapat diterima sebagai anggota masyarakat Magelang. Dan hari itu juga awal perkenalanku dengannya. Seorang perempuan Tidar yang membuatku semakin yakin tentang nasibku menjadi taruna disini.
Dia perempuan Tidar yang istimewa. Dia menemaniku selama masa pendidikanku di kota ini. Kami berteman baik. Tidak lebih dari itu. Dia datang setiap kali aku memintanya menjadi rekanita pada setiap acara yang diadakan korps. Namun, dua minggu terakhir kami tidak bertemu. Waktuku tersita karena adanya serah terima genderang seruling canka lokananta. Penatarama Genderang Seruling Canka Lokananta beserta unitnya yang dipegang oleh Taruna senior diserahterimakan kepada Taruna yunior menjelang akhir masa pendidikan di Akmil. Upacara ini menggambarkan akan berat dan agungnya tanggung jawab Penatarama dan Taruna Senior dalam membina dan mengembangkan ketrampilan dan keagungan Genderang Seruling Canka Lokananta sebagai Drumband kebanggaan Taruna Akmil.
Dan malam ini adalah malam pengantar tugas, suatu tradisi korps yang dimaksudkan untuk memberikan dorongan semangat pengabdian pada Taruna Dewasa yang segera akan menyelesaikan masa kehidupan yang khas dalam lingkungan Korps Taruna. Malam Pengantar Tugas ini diselenggarakan oleh Korps Taruna untuk mengantarkan Taruna Dewasa yang akan meninggalkan Akmil memasuki kehidupan militer sebagai seorang Perwira.
Dan tanpa perempuan Tidar itu aku melewatinya. Kami tidak saling bertemu selama tujuh tahun setelah itu. Kubaktikan sepenuhnya hidupku untuk militer sampai saat ini.
Dan sekarang……………………
“Oeekkk…oekkkk” bayi mungil di sampingku menangis. Membuatku terjaga dari istirahat malamku yang lima bulan ini agak berkurang karena tangisan Biru, anak kami. Dan saat-saat seperti inilah yang mengingatkanku pada masa-masa pendidikan dulu. Sambil membimbing si biru mengulum dot botol susunya kulirik persit kartika candra kirana-ku. Aku tak tega membangunkan perempuan tidarku yang resmi menjadi istriku saat pedang pora dua tahun lalu.







Penulis adalah pengagum militer yang merindukan pedang pora saat menikah nanti. Juga mendapat julukan ibu persit kartika candra kirana setelahnya. Namun, agaknya julukan ibu bhayangkari yang bakal disandangnya beberapa tahun lagi karena kisah cintanya yang menuju jiwa yang lain. (Sedikit gurauan di tengah masa-masa magang yang cukup padat).

Read more...

Kenangan di Jababeka

>> Minggu, Juli 25, 2010

Siang itu terasa panas sekali, matahari mengeluarkan semua cahayanya. Kutelusuri jalan yang sama ini setiap pulang berangkat kekampus dengan kakiku yang semakin perih karena sepatuku yang kekecilan. Sesampainya di loby kampus segar rasanya tubuh ini tersembunyi dari sinar matahari. Terlihat teman-temanku sudah datang dan duduk lesehan berhotspotan ria di loby yang entah mengetahui kedatanganku atau tidak. Terlihat sebuah pemberitahuan di papan pengumuman dekat mereka yang berisikan dibutuhkan 3-5 ’kataloger’ di Jakarta kontrak selama 10 hari. Entah kenapa saya tertarik dengan pengumuman itu dan langsung mencatat contact person yang ada di pengumuman tersebut yang ternyata sudah ada di hanphone saya dan nomor hape dosenku. Aku ingat betul hari itu tanggal 01 Juni 2010.
Sehari setelah itu saya menghubungi dosen saya dan janjian bertemu di ruang sekretariat D3 jam 10 pagi, karena saya dari jurusan D3 Perpustakaan jadi saya yakin pengumuman lowongan sebagai ’kataloger’ itu di tujukan kepada mahasiswa Perpustakaan. Ternyata sampai detik itu belum ada yang daftar untuk magang 10 hari di jakarta tersebut. Hal itu di sebabkan karena jadwal keberangkatannya sama dengan jadwal Ujian semester saya sehingga teman-teman saya tidak ada yang mendaftar dan tidak ada yang mau ku ajak karena enggan meninggalkan ujian semesteran,. Namun saya tetap mendaftar. Sehari setelah itu tetap tidak ada yang mendaftar meski saya mengajak teman-teman sekelas saya dan mengkabari kakak kelasku. Saat itu kakak tingkatkku sudah musim ujian kelulusan dan banyak yang sudah lulus dan banyak pula yang sudah dapat kerja meski masih menunggu wisuda dan ijazah belum keluar. Maklum jurusan Perpustakaan di Indonesia memang sepi peminat dan sedang banyak dibutuhkan.
Aku bingung harus bagaimana hingga hari terakhir pendaftaran tanggal 04 Juni 2010. dalam detik-detik terakhir dengan di bantu kakak kelasku mas Aditya akhirnya dia berhasil membujuk tiga temannya untuk ikut. Mas Aditya sendiri tidak ikut karena sudah mendapat pekerjaan di perpustakaan pascasarjana kampus ini. (@_@)

Seminggu sebelum berangkat aku menjalani rutinitas kuliah seperti biasa sambil meminta Ujian Akhir ku di majukan sebelum jadwalnya ke masing-masing dosen pengampuku. Cukup menyenangkan, tiga mata kuliah berhasil ujiannya aku majukan sebelum waktunya. Dan dosen yang lainnya menganjurkan agar saya ikut susulan saja. (@_@)
Tak terasa seminggu terlewati dan hari jum’at hari keberangkatan menuju pengalaman yang ku inginkan tiba. Waktu itu aku dan ketiga kakak tingkatku Dewi, Andrian dan soqib berkumpul di agen Rosalia Indah Sumber, Manahan pukul 15.00 dan didampingi kedua dosen kita. Baru beberapa saat bus supereksekutif no 209 itu berjalan saya langsung memakai selimut karena kedinginan. Sontak setelah itu kedua dosen dan ketiga kakak tingkatku yang belum cukup akrab langsung menoleh dan geleng-geleng,. Kalian nggak percaya kalau AC bis itu dingin sekali?? Buktinya mbak Dewi juga kedinginan sampai gemeteran setelah makan malam di Gombong. (@_@)
Saat perjalanan di dalam bus aku ingat kalau aku belum pamit rumah ke ayah ibu. Belum pamit kakaku yang di Surabaya. Belum pamit kakakku yang di Palur. Belum pamit kakakku yang di Cirebon. Belum pamit kakakku yang sedang di Sumbawa. Dan belum pamit kekakak-kakakku yang lainnya. Jangan kaget ya? Karena aku anak nomor ke-11 dari sebelas bersaudara.(@_@)
Dengan satu sms kirim kebanyak selesai sudah acara pamitannya, karena apabila aku pamitnya waktu aku masih di rumah pasti tidak diperbolehkan jika anak perempuannya ini pergi jauh-jauh,. Tapi kalau sudah berangkat baru kasih kabar begini mereka bisa berbuat apa? Hahahahaha (@_@)
Semenit sesudah aku kirim sms kekakak-kakakku panggilan masuk pun berdatangan ke hanphone ku. Sungguh tidak enak sekali karena aku pasti terdengar berisik karena sudah malam mengganggu tidur orang lain di Bus lagi, apalagi kakak-kakakku pada mengkonference telfonnya yang aku yakin bisa ngajak ngobrol lama sekali seperti jika aku dikamar kostan. Mereka pun mengeluarkan ekspresi kekhawatirannya. Sebenarnya aku ingin berbohong bahwa transport, penginapan dan makan belum di tanggung oleh sebuah Departement yang aku tuju agar mereka pada mengirimi aku uang. (@_@).
             Namun mendengar kekhawatiran mereka yang serius aku jadi tidak bisa berbohong dan aku bilang sejujurnya saja bahwa aku tidak akan keluar uang sepeserpun untuk kesana, selama disana dan sepulangnya dari sana.
             Sesampainya Di tempat tujuan, yang ternyata di daerah Jababeka kita langsung diantar ke Dementory dan di tunjukkan kamar masing-masing. Masih pagi sekali dan mata masih mengantuk. Melihat kasur yang empuk dikamarku aku langsung merebahkan diri. Namun kurang nyaman karena springbednya masih terbungkus plastik. Kulihat kursinya juga masih terbungkus plastik, semua furniture nya masih baru, bahkan bau catnya pun belum hilang yang membuat aku kurang nyenyak jika langsung tidur.

Setelah mandi pagiku yang lama karena aku belum tahu cara menggunakan shower, aku memasang sprei dan sarung bantal yang tersedia. Matahari sepertinya mulai naik dan aku buka tirai jendelaku yang warna dan bentuknya aku suka, tirai bewarna biru dilapisi kain  putih bersih yang lebut. Sungguh takjub aku memandang keluar. Sepi. Luas. Hijau. Semak. Lahan terabai. Semua bangunan di cabang Kementerian ini terlihat baru semua. Sungguh daerah yang mirip dengan tempat tinggal impian. Aku suka ketidak ramaian. Dibawah hanya terlihat satpam dan sedikit kendaraan yang berseliweran di jalan raya.

           Setelah sarapan pagi kita juga dikagetkan lagi dengan kondisi perpustakaan tempat kita akan bekerja sepuluh hari kedepan. Semua rak masih kosong. Semua buku baru dan masih terbungkus rapi. Bahkan kalau ditaruh di rak cuman satu rak gak penuh sehingga banyak rak yang masih kosong. Jauh dari bayangan kita. Kita bingung harus memulai darimana karena dipengumuman hanya tertulis ’kataloger’ jadi kita mengira perpustakaan yang sudah berjalan dan tinggal dikembangkan serta dijalankan.
       Langsung saja pak dosen mendiskusikan cara pengelolaan apa yang akan kita pakai. Hingga akhirnya kita semua sepakat untuk di otomasi perpustakaan saja agar cepat karena apabila dilakukan secara manual juga akan memakan waktu yang banyak sedangkan waktu kita cuma 10 hari. Untung ujian semesteran matakuliah otomasi perpustakaanku sudah kumajukan jadi aku masih ingat dan belum banyak lupa apa yang diajarkan. Setidaknya aku sedikit banyaknya sudah paham cara memperoleh software Senayan yang Opensource dan cara menggunakannya. Akhirnya setelah senayan dapat di akses dari semua komputer yang ada diperpustakaan kita pun langsung mengklasifikasi satu demi satu tumpukan buku yang ada. Kita inputkan ke Senayan, di Inventaris, di beri barcode, dilabeli sampai pengecapan dan shelving. Jadi semua pekerjaan perpustakaan kita kerjakan semua bukan hanya mengkatalog.
Sehari setelah bekerja dosen kita pulang ke Solo karena harus mengajar dan ada urusan lainnya juga pasti. Kebiasaan buruk kita selama disana adalah kerja sampai hampir magrib. Sehabis magrib tanpa mandi dahulu pada bermain pingpong atau basket dengan korean people yang satu dementory dengan kita. Setelah makan malam jalan-jalan keluar entah kemana yang penting keluar, setelah itu kalau tidak lembur bersama malah nonton piala dunia sampai larut malam. Bahkan kadang sehabis lembur masih pada nonton piala dunia sampai pagi. Dan Al hasil, tratatatatatatatatat,..... Paginya bangun jam 8 pagi,. Jam 9 sarapan dan jam 10 kadang baru berangkat kerja. Mentang-mentang ne cabang Kementerian belum ada aturan, belum diresmikan dan pegawainya yang baru 14 (dah termasuk satpam dan cleaning service) jadi meski kita seenaknya gak ada yang tahu. (@_@)
Meskipun pulang dan berangkat kerja sesuka hati namun kita bekerja dengan senang hati. Suasana positif pun mereka timbulkan dan selalu bercanda tawa yang sangat berbeda dengan image perpustakaan dimasyarakat yang ada sekarang. Dimata masyarakat seorang Librarian, pustakwan atau lebih sering disebut penjaga perpustakaan hanya dipandang sebagai seorang yang malas, galak, jarang tersenyum dan berwajah pucat karena jarang terkena sinar matahari. Sungguh kita ingin mengubah image itu.
Malam kedua setelah kita bekerja aku dan mas Andrian keluar sekedar mencari camilan di minimarket, namun saat dijalan aku meminta mas Andrian untuk membelokkan motornya ke arah yang berlawanan dari minimarket dan malam kita muter-muter kota Jababeka tanpa helm. Sungguh kota yang tertata rapi, indah dan masih sepi dari hiruk pikuk langsung memikat hatiku dan mas Andrian. Seketika itu aku tanya mas Andrian;
”Kamu pilih Jababeka ini atau UIN Jogja?”
Yang saat itu ia mendapat tawaran kontrak di UIN Jogja yang di kenal sudah canggih. Berada di kota Jogja yang sebenarnya tergolong kota tujuan pariwisata. Sontak aku kaget waktu mas Andrian menjawab; ”Aku ingin tinggal disini, memang perpustakaan UIN Jogja canggih, tapi aku suka daerah ini, kita kembangkan saja perpustakaan ini menjadi secanggih di UIN atau di UI.”
Setelah cukup puas muter-muternya kita ke minimarket, sesampainya di dementori ternyata mas Soqib dan mbak Dewi juga mengungkapkan kesukaannya kepada daerah ini.
Di dementori tempat aku tinggal, juga tinggal karyawan asal klaten dan 2 korean people. Suatu malam saat makan malam dan nonton tv bareng semua kumpul, aku bilang ke mas Andrian dan mbak Dewi bahwa Chang Hee Jung salah satu korean people yang baru berumur 23 tahun itu cakep sekali dan bibirnya imut. Sontak aku kaget waktu mas Andrian bicara sama Chang tiba-tiba dia bilang; ”Chang, Rohana ’sarang heok’ (suka/cinta) sama kamu.” yang sebelumnya sudah bertanya dulu pada pakdhe Yong apa bahasa Hangulnya cinta. Aku langsung bilang kalau mas Andrian bohong, tapi suasana semakin menjadi karena semua yang di situ akhirnya bilang ke Chang kalau aku suka dia dengan suara keras dan nada yang lambat, maklum karena mereka berdua belum fasih berbahasa Indonesia. Berapa lama kemudian mr. Chang bicara; ”Rohana, ji ka ka mu su ka sa ya, ka mu ting gal di Jababeka agar ki ta se ring ber temu, se ko lah ka mu pin dah ke de pan sa ja,.” sambil menunjuk kedepan karena depan dementori kami adalah President University. Dalam hati, lucu banget, bahasa inggris saja aku tak bisa mau pindah kesana,. Emangnya di PU ada jurusan perpustakaan???? (@_@)
”Mr.Chang, saya kan belum bekerja, kalau saya tinggal dan sekolah di sini saya makan apa??”
”Nanti saya traktir,.”
”traktir setiap hari?”
”Ya.”
Ya ampun ya ampun ya ampun, ne bule bikin gemes aja.
 Sehari sebelum kita pulang ke Solo, kita berencana bersenang senang dulu di waterboom. Saat pakdhe Yong mampir ke perpustakaan dan membuat teh, saya mengajaknya untuk ikut kita main ke waterboom. Mas Andrian juga mengajak mas Chang agar ikut. Namun hari itu adalah hari kerja. Entah mengapa atau karena kesulitan bahasa waktu mr.Yong dan mr.Chang minta ijin untuk tidak kerja lama banget, sejam lebih. (@_@)
Selasa itu akhirnya kita berangkat kewaterboom kecuali mas soqib yang sudah pergi duluan paginya ke rumah familinya di Cibitung. Kita berangkat naik bus besar milik dinas padahal kita cuman berlima. Sudah dibilang mentang mentang balum ada aturan kemana mana memakai bus itu solar juga dari perusahaan meski hanya sekedar keluar makan ke Hik,. Oh God
Banyak hal yang terjadi dan tak terlupakan di waterboom. Sungguh menyenangkan moment-moment saat itu. Aku ingat ada sales cantik mempromosikan kartu perdana ke pakdhe Yong dengan bahasa Indonesia yang baik, benar dan CEPAT. Aku melihat kemata pakdhe Yong yang pasti kebingungan karena dia belum bisa di ajak berbicara bahasa Indonesia dengan nada cepat. Mas Chang pun menjelaskan ke pakdhe Yong maksut dari sales cantik, tinggi dan belakangan diketahui baru beumur 17 th dan bernama Mendy itu dengan bahasa Hangul dan gentian tanda Tanya yang memenuhi otakku.
Setelah cukup akrab Mendy meminta nomor hp mas Chang dan mas Chang hanya memperlihatkan nomor pada kartu perdana yang di belinya dengan terpaksa itu. Ternyata mas Chang welcome banget dengan orang-orang yang ingin kenal dengan dia dan suka bermain-main sama anak-anak waktu di waterboom. Melihat mas Chang memberikan nomor handphonenya ke Mendy, mas Andrian langsung berbisik padaku; “Ternyata sainganmu banyak.” Sambil cengar-cengir.
Diantara kita hanya aku yang tidak bisa berenang dan duduk dipinggir kolam. Mas Chang menghampiriku meyakinkanku agar tidak takut air dan aku di tarik ketengah kolam olehnya dan di ajari bagaimana caranya berenang. Malas belajar karena sudah cukup lama aku diajarinya tapi aku belum bisa berenang juga akhirnya aku lari dan main perosotan pakai ban sama mas Andrian yang pada akhirnya mereka semua ikut-ikutan main perosotan.(@_@)
               Kita bersenang-senang di waterboom hingga lupa waktu dan tak terasa sudah jam 1 siang. Jam 2 kita siap-siap pulang dari waterboom dan mampir beli tiket Bus untuk pulang ke Solo. Sebelum pulang ke Dementori kita makan dulu dan hari itu hari Chang karena dia yang bayari semua.
Sampai di Dementori kita berpamitan kepada semua dan diantar dengan Bus itu lagi ke agen perjalanan. Saat di terminal mas Chang menginginkan agar kita tidak pulang hari itu juga, namun tiket terlanjur di beli. Dan akhirnya kita berpisah.
Didalam bus menuju Solo aku, mbak Dewi dan mas Andrian terngiang-ngiang saat-saat di Jababeka. Rasanya tidak mau pulang dan ingin balik aja. Hingga akhirnya dengan Pdnya kita bilang, ”Oke kita pulang, kita seleseikan dulu urusan kita di Solo baru kita kembali lagi kesana.”
Esok paginya kita sampai di terminal Tirtonadi dan berpisah kerumah masing-masing. Berhubung mas Andrian dan Mbak Dewi sudah tidak ada kuliah jadi selama seminggu lebih aku tidak bertemu mereka di kampus. Aku juga sibuk dengan ujian semesteranku dan permintaan susulan ujian semesteranku yang terbengkalai selama aku tidak di Solo.
Seminggu lebih tidak bertemu mbak Dewi dan mas Andrian dan hanya berhubungan dengan sesekali sms rasanya kangen banget. Suatu malam mbak Dewi sms aku katanya dia mau mencari surat keterangan kelulusan untuk melamar kerja, karena jika tidak melamar kerja dan hanya menunggu panggilan dari Jababeka dia akan menganggur. Beruntung kalau dipanggil, kalau nggak kan malah mengganggur lama. Kebetulan juga ada lowongan pustakawan di Akbid. Waktu itu rabu 30 Juni tepat liburan semesteranku di mulai. Aku kekampus menemani mbak Dewi mencari SK kelulusan dan minta tanda tangan kesana-sini, hingga akhirnya berlabuh istirahat di lobi karena kajurnya sedang mengajar suatu test sekalian minta foto-foto waktu kita di jababeka di laptopnya mas Andrian. Usai mendapat tanda tangan Kajur Prodi Perpustakaan kita ke bagian pendidikan terus keruang dekan.
Habis itu kita tidak langsung pulang kerumah namun jajan es cream dulu di belakang kampus. Sambil ngobrol-ngobrol setelah seminggu lebih tidak bertemu. Mbak Dewi yang akan melamar kerja karena gak dapet-dapet panggilan dari Jababeka. Mas Andrian yang bingung mau menerima tawaran UIN Jogja apa tidak, melanjutkan S1 Perpustakaan di Undip atau tidak karena panggilan tak kunjung-kunjung datang dia jadi bingung. Kalau daftar S1 sekarang dan ternyata dipanggil ia akan kehilangan banyak uang karena sudah daftar. Tapi kalau tidak mendaftar dan ternyata tidak mendapat panggilan keduanya malah akan melayang. Ketidakpastian ini membuat mereka sedikit resah.
         Selesai makan es cream kita kembali kekampus namun mas Andrian pergi badmintoon dan menitipkan laptopnya dititipkan aku. Saat aku dan mbak dewi berhotspotan ria di lobi aku melihat dosenku yang dulu mengantarkan kita pada Jababeka. Langsung saja aku sapa beliau dan ternyata beliau membawa kabar gembira untuk kita yang pernah magang di Jababeka. Mbak Dewi pun seketika batal melamar menjadi pustakawan di Akbid.
Malamnya waktu mas Andrian ke kostku buat mengambil laptopnya aku kasih kabar gembira yang dibawa dosen kita tadi padanya. Ia senang sekali. Jadi batal juga ia daftar S1 Perpustakaan transfer di UNDIP, hehehehee
Ia juga menanyakan bagaimana kuliahku jika aku ikut pelatihan selama 2 minggu dan langsung kerja disana. Dengan mencoba santai dan tenang aku menjawab aku akan ambil cuti akademik selama 1 th. Ya itu keputusanku. Meski urusanku di Solo masih banyak dan aku masih sedikit bingung.
Aku semakin yakin dan ingin ambil cuti akademik (selang) karena ayahku yang sudah berusia 70th lebih senang sekali jika aku kerja. Selain itu jika aku pergi se enggaknya ayahku tidak perlu membayar 100% SPPku, tidak perlu membayar kostku, dan tak perlu membiayai kostku di Solo.
I am coming Jababeka.
I will Back Solo.

01 Juli 2010

Read more...

  © Blogger template Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP