Senin, Mei 17, 2010

Bimbang


Aku berjalan tanpa arah
Irama angin senada langkah
Hembusannya hingga ke perbatasan
Terpotret dalam album kegelapan

Batang dan ranting otak bergulat
Berusaha mencari cahaya tepat
Hingga akhirnya ku berhenti
Menunduk lesu dalam tangisan hati

Entah ketulusan atau kebodohan
Keikhlasan atau sebuah kemunafikan
Aku hanya manusia yang berjuang
dalam dunia yang bimbang

Berdiri aku di antara persimpangan
Melangkah pergi dari perbatasan
Perlahan aku mendongak
Meski langkahku terseok

Oleh : Mei Safitri R

Rabu, Mei 05, 2010

Ketika Vandalisme dan Penyalahgunaan Ruang Publik Menjadi Ancaman

Sore itu saya berencana untuk jalan-jalan ke Taman Sekartaji. Tidak cukup sulit untuk menjangkau taman tersebut. Cukup lima menit menggunakan kendaraan pribadi saya sudah sampai di taman yang diresmikan pada Februari 2009 oleh Walikota Jokowi.
Sebelum menjadi taman, tempat ini dahulunya merupakan tempat hunian liar dan juga digunakan warga untuk berjualan tanaman hias. Namun, dengan pendekatan persuasif yang dilakukan pihak pemkot, tempat tersebut disulap menjadi taman yang indah dan cantik.
Taman Sekartaji yang terletak persis dipinggiran kali Anyar, Jebres, atau perempatan Rumah Sakit dr. Oen Kandang sapi ini, memberikan kesan yang sangat eksklusif dan lain jika dibandingkan dengan tempat-tempat untuk bersantai di kota Solo seperti: Stadion Manahan, kompleks Windujenar, taman Balekambang, ataupun kawasan City Walk Slamet Riyadhi. Letak perbedaannya adalah konsep fisik taman yang begitu dekan dengan bibir sungai, semakin menguatkan keberadaan tempat ini untuk dijadikan tempat yang sangat cocok untuk bersantai atau beristirahat sejenak sembari melihat derasnya aliran sungai Kali Anyar yang mengalir menuju sungai Bengawan Solo.
Ide yang dikembangkan oleh pihak Pemkot terkait dengan pengembangan Taman Sekartaji sebenarnya sangat bagus. Pemkot merubah daerah bantaran sungai yang semula merupakan kawasan hunian liar menjadi sebuah taman. Tidak pelak dengan keberadaan taman ini, membuat pemandangan di ruas Jalan Tentara Pelajar menjadi lebih sedap dipandang mata.
Namun kini keadaan taman tersebut bisa dikatakan tidak cukup baik. Ancaman vandalisme menjadi mimpi buruk dari taman ini. Vandalisme dapat diartikan perambahan, penghapusan, atau pengubahan isi yang secara sengaja dilakukan untuk mengurangi kualitas. Jenis vandalisme yang paling umum adalah mengganti tulisan yang ada dengan hal-hal yang menyebalkan, mengosongkan halaman, atau menyisipkan lelucon yang konyol dan hal-hal yang tak berguna lainnya.
Hal tersebutlah yang terjadi di taman yang baru berumur 2 tahun ini. Terlihat corat-coret dari tangan yang tidak bertanggung jawab dimana-mana. Tentu saja hal ini sangat mengganggu para pengguna Taman Sekartaji. Belum lagi kondisi papan nama taman ini, kini tidak lagi tertulis Taman Sekartaji sebagaimana mestinya. Hal ini dikarenakan komponen dari tulisan tersebut sudah hilang diambil oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Perlu adanya pengawasan terhadap kawasan ini. Ini dikarenakan letak taman yang berada di pinggiran Kota Solo. Pengawasan yang cukup ketat diharapkan dapat mengurangi tindakan vandalisme yang ada di ruang publik. Saya sempat menanyakan mengenai permasalahan vandalisme yang ada di ruang publik terutama di Taman Sekartaji kepada salah satu pengamat lingkungan Kota Solo. Beliau mengatakan permasalahan vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dengan ruang pubik. Namun, vandalisme dapat diminimalisasi tergantung dengan komitmen untuk menjaga ruang publik dari masyarakat pengguna taman tersebut. Jika memang komitmen itu tinggi bukan tidak mungkin vandalisme dapat dihilangkan.
Selain ancaman vandalisme, Taman Sekartaji menghadapi ancaman lain, terutama dalam hal penggunaan taman itu sendiri. Idealnya taman ini difungsikan sebagai arena bermain keluarga. Namun, cobalah anda berkunjung kesana setiap siang hari pada jam sekolah. Taman itu di siang hari kerap disalahgunakan sebagai 'pelarian' anak sekolah yang membolos. Bahkan saat jam pulang sekolah, taman menjadi tempat pacaran pelajar berseragam.
Tidak hanya sampai disitu, taman ini juga kerap dijadikan remaja untuk minum-minuman keras. Bahkan tidak sedikit remaja yang bertindak mesum disana. Hal ini menjadikan taman ini sekarang tidak lagi dilirik sebagai salah satu tujuan wisata yang murah meriah yang ada di Solo. Sehingga peran Pemkot disini menjadi sangat penting untuk mengembalikan fungsi Taman Sekartaji ini. Pengawasan yang rutin saya rasa dapat mengembalikan rasa nyaman masyarakat untuk kembali berkunjung ke taman yang sangat memiliki potensi ini.

LI(T)BANG: INTRODUCTION *)

Sebelum diuraikan lebih lanjut mengenai Bidang Penelitian dan Pengembangan (LItbang) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI FISIP UNS, terlebih dahulu kita menilik ulang sejarah perkembangan internal Bidang tersebut. LPM VISI FISIP UNS selangkah lebih maju dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM). Dikatakan demikian karena pengelolaan SDM telah terpisah dari kinerja Bidang Litbang. Hal ini berawal dari Musyawarah Besar (Mubes) XVIII yang merekomendasikan peninjauan ulang Pedoman Sistem Kaderisasi (PSK) LPM VISI yang dirancang kurang lebih lima tahun silam. Pembahasan PSK ini terus berlanjut pada kepengurusan periode 2007/2008 yang lalu. Hingga pada perkembangannya, tim perumus PSK merekomendasikan perubahan arahan PSK, dimana pengkaderan di LPM VISI masih berada di bawah naungan Bidang Litbang.
Seiring berjalannya waktu, rekomendasi ini dirasa memiliki kelemahan, yakni Bidang Litbang menjadi tidak fokus dalam menjalankan double job tersebut. Maka, berdasarkan pertimbangan dan peninjauan ulang dalam forum pembahasan PSK, disepakati LPM VISI melahirkan Bidang baru yang khusus berkonsentrasi pada pengembangan kader, yang kemudian dinamakan Bidang Kaderisasi. Bidang ini mulai berjalan dari kepengurusan 2008/2009 kemarin.
Setelah menengok sejarah perkembangan internal Bidang Litbang yang melahirkan Bidang Kaderisasi, selanjutnya kita melangkah pada uraian perkembangan Bidang Litbang pada kepengurusan 2009/2010 yang saat ini tengah berjalan. Struktur Organisasi Bidang Litbang LPM VISI, ialah Pemimpin Litbang, Staf Departemen Pendukung Penerbitan, dan Staf Pewacanaan Eksternal. Berkedudukan sebagai Pemimpin Litbang adalah Johan Bhimo Sukoco. Staf Departemen Pendukung Penerbitan digawangi Adinda Nusantari dan Rizki Pratama Nusantara. Sedangkan pada posisi Staf Pewacanaan Eksternal diperkuat oleh Ansyor dan Duratun Nafisah.
Masing-masing jabatan memiliki Mekanisme Kerja (MK) yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan tugas. Pemimpin Litbang bertugas mengkoordinasi dan mengontrol antar Departemen. Selain itu Pemimpin Litbang juga bertugas atas kerja penelitian, peningkatan mutu penerbitan, dan menyebarluaskan gagasan melalui kegiatan non penerbitan. Pemimpin Litbang mempertanggungjawabkan tugas-tugasnya ini kepada Pemimpin Umum.
Dalam menjalankan tugasnya, Pemimpin Litbang dibantu oleh Staf Departemen Pendukung Penerbitan dan Staf Departemen Pewacanaan Eksternal. Staf Departemen Pendukung Penerbitan memiliki tugas melakukan penelitian yang mendukung penerbitan, melakukan evaluasi atas terbitan, serta mendokumentasikan data yang mendukung penerbitan. Staf Departemen Pendukung Penerbitan bertanggung jawab kepada Pemimpin Litbang. .
Berikutnya, ialah Staf Departemen Pewacanaan Eksternal. Tugas-tugas yang diemban Staf Departemen Pewacanaan Eksternal antara lain: mengadakan sosialisasi terbitan, melakukan penelitian mandiri dan kemudian mempublikasikannya, serta mengembangkan wacana dan budaya intelektualitas civitas akademika. Staf Departemen Pewacanaan Eksternal bertanggung jawab kepada Pemimpin Litbang.
Adapun Garis-garis Besar Haluan Program Kerja (GBHPK) yang menjadi landasan Bidang Litbang dalam menjalankan Program kerja (Proker) antara lain: meningkatkan intelektualitas dan kreatifitas anggota, mengoptimalkan penerbitan produk jurnalistik dan non jurnalistik sebagai sarana pengkritisan kondisi sosial di lingkungan sekitar organisasi, dan mengoptimalkan kerja-kerja non penerbitan sebagai sarana untuk menanggapi kondisi sosial di lingkungan sekitar organisasi.
Bidang Litbang memiliki sejumlah proker yang mengacu pada GBHPK di atas, antara lain: penelitian dan pencarian data terbitan, evaluasi terbitan, pengelolaan web (blog dan facebook), diskusi eksternal, launching majalah, dan penelitian non jurnalistik. Dengan eratnya semangat kekeluargaan dan kuatnya solidaritas team, kuantitas proker yang cukup banyak ini tidak menjadi problem internal Bidang Litbang. Setidaknya sampai posting ini dimuat, masing-masing personel masih kukuh dengan idealismenya memajukan Bidang Litbang. Semoga kedepannya Bidang Litbang semakin menunjukkan geliat eksistensinya. Mari berdoa.


*) Penulisan judul “LI(T)BANG” menunjukkan korelasi kuasa Tuhan (symbol “T”) dalam perlindungan dan rahmat-Nya pada proses perkembangan Bidang Litbang LPM VISI. Penulis terinspirasi oleh film “Cin(T)a”, dengan sutradara Sammaria Simanjuntak.