Minggu, Mei 25, 2008

Terjebak Dalam Rutinitas

Oleh: Rini Setiyowati

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam menggerakkan sebuah perubahan. Seorang yang telah tamat menyelesaikan masa studi SMA yang kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu ke Perguruan Tinggi (PT) atau setingkat inilah yang kemudian kita sebut sebagai mahasiswa. Ketika mereka mulai/telah menyandang predikat itu, mereka akan dihadapkan pada banyak persoalan yang pada gilirannya akan membuat mereka turut ikut masuk sebagai anggota salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus yang bersangkutan, misalnya.

Dan bila kita tilik, salah satu UKM tersebut adalah Pers Mahasiswa (Persma). Tentu saja input sangat mempengaruhi perkembangan UKM selanjutnya, yang dalam hal ini adalah persma. Namun, seiring berjalannya waktu input tsb akan digodok oleh para pengurus dan pegiat persma tersebut. Hasilnya tak dapat ditentukan dalam hitungan hari, karena itu butuh sebuah proses untuk menjadikan sesuatu menjadi matang. Namun, membuat proses menuju kematangan menjadi lebih cepat juga sangat diperlukan.


Pers Mahasiswa yang sering disebut dengan persma dalam perkembangannya juga mengalami pasang surut. Perkembangan di sini adalah perkembangan tiap Persma itu sendiri. Berbagai hal turut menjadi faktor penyebabnya. Seperti yang kita ketahui bersama, bila para penggerak persma adalah seorang yang menyandang status mahasiswa. Menyandang predikat sebagai mahasiswa inilah yang kemudian menjadi titik pangkal sebagai bagian dari faktor penentu pasang surutnya perkembangan persma dewasa ini.

Mengapa dikatakan sebagai titik pangkal?Hal ini dikarenakan mental yang melekat pada mahasiswa kini. Sekarang ini, seorang mahasiswa lebih cenderung studi oriented, sehingga mereka terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Dan virus studi oriented ini juga yang sedang menjangkiti sebagian para pegiat persma. Ketika mereka mulai berkiblat pada studi saja maka sudah jelas akan mempengaruhi kondisi internal persma di mana ia bernaung.

Bila kita mau berpikir lebih jauh, satu virus mampu meruntuhkan banyak hal, misalnya saja seperti tadi, virus studi oriented. Pada gilirannya virus ini menyebabkan seorang pegiat persma akan cenderung mementingkan permasalahan perkuliahannya. Sehingga ia lebih sering meninggalkan tanggungjawabnya di dalam persma yang bersangkutan. Bayangkan saja bila mayoritas pegiat persma seperti ini, maka kekritisan dan ‘taring’ persma yang bersangkutan akan hilang sedikit demi sedikit.. Sungguh kondisi yang memprihatinkan.

Karena itulah, ada hal-hal yang tetap perlu diperhatikan oleh orang-orang yang bernanung di dalam persma itu. Pertama, terkait proker oriented. Di dalam sebuah persma tentu dibagi menjadi beberapa bidang. Kecenderungan sekarang ini, mereka hanya melaksanakan hal-hal yang menjadi proker bidangnya masing-masing. Begitu proker selesai, ya sudah tanggung jawab mereka juga selesai. Padahal tidak sesingkat itu. Mereka harus tetap berpikir untuk persma di mana ia berada. Menyelesaikan proker di bidangnya belum menjadi jaminan keberlangsungan kegiatan keorganisasian berjalan dengan semestinya.

Selanjutanya, adalah refleksi serta transfer of knowledge. Segala yang telah dilakukan oleh para penggerak persma dibutuhkan sebuah refleksi. Karena refleksi merupakan sebuah evalusi diri. Ini menjadi hal yang elementer. Kenapa dikatakan elementer? Ya, karena untuk mengukur keberhasilan dan sejauh mana kita mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi sebelumnyaa serta apakah sudah ada perubahan. Maka dari itu perlu juga sebuah transfer of knowledge. Agar kesepemahaman serta kesinambungan dapat tetap terjaga. Sehingga tidak ada satu hal yang ‘miss’ terutama dalam sebuah pergantian generasi.

Ketiga, penyadaran bersama bila para pegiat persma A, B, C atau persma manapun, mereka adalah bagian dari pers mahasiswa yang memegang peran yang vital. Penyadaran bagi para pegiat di dalamnya tampaknya harus di perlebar. Bila mereka tidak hanya terikat sebagai anggota persma tertentu. Lebih dari itu mereka telah terpilih sebagai penggerak sebuah pers mahasiswa.

Selanjutnya adalah jangan melupakan sejarah. Yang namanya sejarah pasti sudah terjadi dan berlalu. Namun, sejarah menyimpan nilai-nilai yang tak kalah pentingnya. Sebuah organisasi pun harus tetap ingat akan sejarah yang pernah diukir para pendahulu mereka. Bila para pegiat persma tsb tak pernah belajar dari sejarah yang lalu bahkan mulai melupakan sejarahnya sendiri, bukan tidak mungkin mereka hanya akan merasa sebagai seorang robot yang bergerak dalam persma.

Tidak ada komentar: