Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 15, 2008

Melayu, Bangsa yang Tak Pandai Manfaatkan Masa Lalu

Oleh : Pramanti Putri
Judul Buku : Orang Melayu di Zaman yang Berubah
Pengarang : Isjoni
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : I, Oktober 2007
Halaman : xi + 168 halaman
Harga : Rp 27.500, 00

Sejak awal abad ke-17, Melayu berkembang menjadi penguasa seantero Asia Tenggara. Wilayah ini menjadi pusat pengembangan pengetahuan dan perdagangan, hingga memikat bangsa-bangsa mulai dari Cina, Arab, Belanda, dan Portugis untuk singgah barang sejenak. Namun, kejayaan Melayu tampaknya milik generasi masa lalu. Melayu yang sekarang sungguh ironis dan justru identik sebagai bangsa yang tertinggal dan berkubang dengan kemiskinan. Inilah yang menjadi titik tolak Penulis, Isjoni, dalam menguraikan keterpurukan bangsa Melayu.

Buku ini pada permulaan halaman, mengungkapkan sejarah permulaan bangsa Melayu. Sedangkan pengertian Melayu sendiri merupakan suatu ras yang menempati daerah Semenanjung Malaya hingga ke Nusantara. Orang Melayu zaman dulu dikenal sebagai bangsa maritim yang bermukim di pesisir, yang sarat akan penyebaran pengetahuan. Diceritakan juga, orang Melayu merupakan bangsa “penakluk” dan merupakan pedagang perantara yang lihai sekaligus pembawa ajaran Agama Islam ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara.


Di balik masa keemasannya, seperti yang diulas di buku ini, bangsa Melayu menyimpan potensi tersembunyi yang membuat mereka mendominasi hegemoni dan kebudayaan, bahkan menjadi pilar kebudayaan dunia. Karsa berbudaya bangsa Melayu tercermin dari budi bahasa mereka yang terbuka, akomodatif, adaptif, juga mengandung nilai-nilai luhur, diantaranya ialah senantiasa hidup rukun dan damai dengan bangsa lain. Seperti ungkapan “Duduk sama rendah, tegak sama tinggi”, bangsa Melayu menjunjung tinggi rasa persamaan dan toleransi.

Di samping kekuatan maritim dan perdagangannya, aspek Islami bangsa Melayu sangat kental. Islam berperan sangat besar dalam membentuk pemikiran orang Melayu, yang terlihat jelas pada kebudayannya. Penulis mengutip filosofi yang dianut bangsa Melayu, “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah”. Hal ini menyiratkan bahwa segala gagasan dan perilaku bangsa Melayu bersandar atas ajaran Islam yang kuat.

Namun, kehidupan orang Melayu berubah drastis sejak kedatangan imperialisme Barat. Ucapan-ucapan penjajah yang mengatakan bahwa orang Melayu itu pemalas, etos kerja rendah, suka hidup santai, membuat bangsa Melayu merasa rendah diri. Faktor inilah yang menurut Penulis mampu menghancurkan psikis bangsa Melayu, bahkan dapat mematikan keyakinan dan motivasi berjuang yang kemudian membuat bangsa Melayu semakin tergusur ke pinggir (menjadi masyarakat marjinal).

Di samping itu, orang Melayu tampaknya tidak dapat memanfaatkan peluang dan berpartisipasi dalam globalisasi. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan politik Melayu yang seharusnya bersikap protektif terhadap basis ekonominya, tetapi justru berorientasi pada pertumbuhan dan ekonomi global yang diusung bangsa Barat. Wrong policy ini tentu saja akan semakin menjerumuskan Melayu yang notabene basis ekonominya masih lemah. Sehingga, aspek ekonomi Melayu bukannya dikuasai oleh tuan rumah, tetapi malah dikuasai oleh kelompok-kelompok di luar bangsa Melayu.

Selain mengupas kemunduran orang-orang Melayu, Penulis juga menyertakan solusi. Untuk dapat mengikis prototype buruk mengenai generasi Melayu terdahulu, perlu dilakukan evolusi pemikiran kearah yang progresif. Generasi muda Melayu hendaknya ditanamkan kebiasaan cara bersaing yang sehat dalam bertindak. Dengan persaingan ini, mampu memotivasi bangsa Melayu untuk lebih percaya diri, optimis dan berusaha memperbaiki diri sendiri. Ke depannya, Penulis berharap agar jiwa entrepreunership generasi muda Melayu lebih berkembang sehingga masyarakat mampu memiliki keunggulan bersaing tiada henti mengalahkan bangsa Barat.

Buku ini cukup bagus dalam menyumbang pengetahuan sejarah dan perkembangan kebudayaan bangsa Melayu. Melalui buku ini, Isjoni menguraikan seluk beluk orang Melayu tidak hanya di permukaan yang terekspos saja, melainkan hingga ke titik poros berkembangnya suatu masyarakat, yakni bermula dari tata adat yang dijunjung bangsa ini. Terutama bagi bangsa Indonesia yang merupakan bagian dari ras Melayu, perjalanan bangsa Melayu dapat dijadikan landasan pacu bagi kita untuk lebih berorientasi ke depan.

Tak ada gading yang tak retak. Buku ini hanya mengungkapkan jejak-jejak “kekalahan” Melayu generasi terdahulu. Meskipun Penulis menyertakan solusi sebagai alternatif jawaban, tetapi disayangkan tidak diuraikan sampai sejauh mana langkah-langkah yang telah ditempuh generasi muda bangsa Melayu dalam proses kebangkitannya. Sehingga, di zaman yang telah berubah ini, seolah-olah orang Melayu hanya diam menyesali sejarah pahitnya.

Dalam pemaparannya, Isjoni juga seringkali menulis dengan menggunakan ejaan bahasa Melayu ,yang mana tidak disertai dengan pengertiannya. Selain itu, masih banyak terdapat kesalahan teknis penulisan. Meskipun ini merupakan perkara kecil, tetapi cukup membingungkan pembaca dalam menyelami inti sari buku.

Rabu, April 09, 2008

Kapitalisme Global, Sang Pembunuh Masyarakat

Oleh : Alina Dewi H

Judul buku : TANDA PEMBUNUH ; Kapitalisme Global di Balik Semiotika Media
Penulis : Fitrah Hamdani
Penerbit : JO Press, Solo
Cetakan : I, Mei 2008
Halaman : xx + 142 halaman
Harga :

Ketika globalisasi dan kapitalisme telah merasuk ke seluruh lini kehidupan masyarakat secara perlahan tapi pasti dunia seolah dijangkiti virus absurditas, manusia seolah-olah mengalami kematian secara masal, mengalami kematian penanda dan petanda akibat keserakahan manusia.

Globalisasi dengan segala bentuknya pada akhirnya meninggalkan nilai dan makna yang ada dalam masyarakat lokal. Globalisasi ekonomi menciptakan virus ekonomi berupa liberalisasi ekonomi. Sedangkan globalisasi informasi dan komunikasi menciptakan liberalisasi media massa yang akhirnya mengabaikan nilai dan makna sosial dalam kehidupan masyarakat.

Buku ini mengungkapkan bahwa melalui semiotika media, kapitalisme global juga sudah sangat leluasa menggerogoti seluruh nilai dan tatanan lokal. Sehingga hegemoni itu menyebabakan tergesernya makna-makna sosial masyarakat.

Globalisasi media dan informasi yang melanda dunia, telah menyebabkan lahirnya kondisi ekonomi dan informasi global. Dalam kondisi ini muncul apa yang dinamakan virus liberalisasi dan virus materialisme di semua bidang kehidupan sehingga mempengaruhi cara pandang dan sikap masyarakat.

Media, setiap harinya menyajikan pandangan-pandangan beragam mengenai dunia, melalui petanda ideologis, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Yang ketika sampai pada masyarakat diterima sebagai suatu bentuk pemahaman baru yang bisa mempengaruhi masyarakat. Kepastian arah globalisasi membentuk masyarakat konsumsi, di mana di dalamnya produk-produk konsumsi menjadi media untuk memunculkan keakuan, gaya, citra, dan status sosial yang berbeda-beda. Barang-barang konsumsi tidak lagi hanya menjadi objek, tetapi juga sebagai lakon simbol yang memunculkan citra-citra kelas dan sensualitas yang akan menciptakan rentang jarak antara seseorang dengan akar budayanya. (hal 112)

Menurut analisis Fitrah Hamdani, untuk memahami globalisasi sebenarnya dapat dianalisis secara budaya, politik, ekonomi, dan institusioal. Tinggal apakah menyebabkan keheterogenitasan atau kehomogenitasan. Ketika semakin kuatnya dominasi negara pusat kapitalisme global pada persoalan kultur, maka semakin berubah pula tatanan lokal masyarakat. Semakin kuatnya dorongan ini ditambah dengan bantuan canggihnya media informasi menyebabkan semakin dominannya imperialisme kultur. Sehingga akhirnya realitas homogenitas lebih kuat ketimbang realitas heterogenitas.

Semua hasil produksi dan konsumsi dalam kapitalisme pada dasarnya bertujuan untuk meraih keuntungan melalui budaya konsumerisme yang disebarkan oleh kapitalisme itu sendiri. Budaya konsumerisme digambarkan oleh Fitrah Hamdani sebagai jantung kapitalisme yang ternyata didalamnya hanya sebuah kesemuan yang dikemas dalam wujud komoditas. Yang kemudian dikonstruksi secara sosial lewat komunikasi ekonomi (iklan, show, dsb) sebagai kekuatan tanda kapitalisme sehingga pada akhirnya membentuk kesadaran diri yang pada dasarnya adalah palsu.

Suatu realitas dunia yang sangat menyedihkan ketika eksistensi sebagai manusia yang hakiki digambarkan hanya dengan sebuah kepalsuan. Kepalsuan yang kemudian merasuk kuat bahkan mendarah daging dalam semua sistem struktur sosial-budaya dan sulit terbendung.

Melalui tipologi media dan teori analisis media yang dibahas dalam buku ini menunjukkan bahwa media sebagai salah satu ruang publik yang pada kenyataannya menjadi lahan subur untuk menanamkan kepalsuan-kepalsuan oleh para pemilik modal yang tujuannya jelas untuk kepentingan kapital, ideologi, dan lain sebagainya. Yang paling parah adalah rusaknya tatanan sosial budaya dengan segala identitasnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya akan selalu tarik menarik dengan budaya lain. Sehingga keinginan untuk mempertahankan budaya lokal harus tetap digalakkan. Menurut Fitrah Hamdani, langkah konkret yang bisa diambil antara lain dengan lebih menitikberatkan pada kepentingan mempertahankan konsistensi entitas lokal sebagai sistem nilai.

Di Indonesia sendiri seperti yang digambarkan Fitrah Hamdani, budaya sebagai entitas bangsa telah kehilangan kekuasaannya karena konspirasi yang telah dibangun secara rapi oleh politik, modal, media, dan seks.

Buku ini, meskipun di beberapa halaman pertama ada pengulangan penulisan tetapi tidak menghalangi untuk membacanya sampai akhir. Fitrah Hamdani juga tidak lupa menyertakan sejarah perkembangan globalisasi dan media di Indonesia khususnya yang semakin menguatkan betapa kapitalisme global telah benar-benar mengacaukan sistem-sistem dalam masyarakat. Khususnya masalah semiotik (simbol) yang oleh Fitrah Hamdani disebutkan sebagai masalah budaya.