Santi Dwi
Jayanti D0110099
Gagasan
“Kesetaraan Gender” menimbulkan pro dan kontra dalam pembahasan RUU Kesetaraan
dan Keadilan Gender (RUU KKG) di DPR RI. Biasanya dikenal dengan istilah
feminisme dan gender, akan memahami bahwa hanya mengutamakan salah satu jenis
kelamin saja. Yang menjadi fokusnya adalah isu ketertindasan kaum perempuan.
ideologi
feminisme sangat mendominasi RUU ini yang jauh hubungannya dari pembangunan
bangsa Indonesia yang bermartabat. Bahkan sebagiannya hanya penjelasan dari
Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women
(CEDAW). Dapat dimbil contoh mengenai definisi diskriminasi terhadap perempuan.
Dalam Bab I
pasal 1 ayat 4 Draft RUU KKG menyebutkan: “Diskriminasi adalah segala bentuk
pembedaan, pengucilan, atau pembatasan, dan segala bentuk kekerasan yang dibuat
atas dasar jenis kelamin tertentu, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk
mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan manfaat atau penggunaan hak
asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya,
sipil atau bidang lainnya terlepas dari status perkawinan, atas dasar persamaan
antara perempuan dan laki-laki.”
Definisi tersebut
hamper sama dengan part I article I CEDAW
yang berbunyi: “…discrimination against
women shall mean any distinction, exclusion or restriction made on the basis of
sex which has the effect or purpose of impairing or nullifying the recognition,
enjoyment or exercise by women, irrespective of their marital status, on a
basis of equality of men and women, of human rights and fundamental freedoms in
the political, economic, social, cultural, civil or any other field.”
Definisi ini
dapat mengesankan di Indonesia secara umum telah berlangsung pemasungan dan
perampasan hak-hak perempuan di segala bidang kehidupan sehingga RUU ini sangat
mendesak untuk disahkan. Atau bahkan apakah hal ini karena sebagai konsekuensi
nyata dari keikutsertaan Indonesia menandatangani konvensi CEDAW pada tahun
1980?
Tujuan
kesetaraan gender adalah untuk mewujudkan keadilan gender dalam pemenuhan hak azasi
manusia di semua bidang, menyelenggarakan tindakan khusus sementara guna
mempercepat tercapainya persamaan substantif di segala bidang kehidupan,
menyelenggarakan upaya pemenuhan hak perempuan atas perlindungan kesehatan
reproduksi, menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, menghapus
prasangka, kebiasaan dan segala praktek lainnya yang didasarkan atas
inferioritas dan superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasarkan peranan
stereotipe bagi perempuan dan laki-laki.
Oleh karena itu,
diperlukan pemahaman penggunaan parameter kesetaraan gender dalam pembentukan
perundang-undangan sebagai upaya penegakan penghormatan, perlindungan dan
pemenuhan hak asasi manusia dalam berbagai peraturan perundang-undangan serta
kebijakan operasionalnya, dengan menyusun parameter kesetaraan gender untuk
diintegrasikan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar