Kamis, Agustus 16, 2012

A Great Leader is a Good Servant

Akhir-akhir ini publik Indonesia, terutama ibukota Jakarta sedang disibukkan dengan Pemilukada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) untuk memilih calon gubernur DKI Jakarta periode 2012/2017. Berbagai kandidat baik indepen maupun dari partai politik memiliki kualifikasi yang cukup menjanjikan di panggung politik.  Ada yang berasal dari jakarta asli yang konon sudah mengetahui seluk beluk jakarta, tetapi permasalahannya adalah apakah pengalaman dan pengetahuan lebih tentang Jakarta itu dapat menjadi patokan baginya sebagai problem solver yang didambakan di kota metropolitan tersebut. Ada pula kandidat dari yang memiliki latar belakang keagamaan, militer, atau bahkan leadership yang berprestasi. Apakah hal-hal tersebut dapat menjadi jaminan untuk memecahkan permasalahan kompleks yang dimiliki kota Jakarta?
                Idealnya pemimpin yang didambakan oleh seluruh masyarakat Indonesia adalah pemimpin yang bermoral, jujur, berkarakter kuat, tegas, serta memiliki komitmen dan loyalitas tinggi dalam mensejahterakan dan memajukan bangsa. Hal ini jelas tercermin dalam hasil putaran pertama Pemilukada di Jakarta baru-baru ini, karena karisma dan pencitraan yang baik salah satu kandidat yang berasal dari kota Solo, Jokowi memperoleh suara terbanyak. Tentu saja hal ini tak luput dari prestasi yang pernah ia capai selama menjabat sebagai walikota Solo, yakni sebagai salah satu walikota terbaik di dunia.
                Sejenak kita melihat figur seorang pemimpin besar di jazirah Arab, Umar bin Abdul Aziz. Dalam kisahnya, ketika ia diangkat menjadi seorang khalifah (pemimpin), ia amat gelisah dan takut, bahkan ia mengurung diri di rumah selama tiga hari. Selama tiga hari tersebut itulah ia merenungkan nasehat Rasulullah SAW bahwa pemimpin adalan pelayan umatnya. Hal itulah yang diterapkan oleh Umar selama menjadi khalifah, melayani umat dengan rendah hati, serta hidup sederhana. Hal ini tentu bertolak belakang dengan apa yang terjadi belakangan ini, kepemimpinan sering diidentikkan dengan kekuasaan, otoritas, dan kesewenang-wenangan. Apabila calon-calon pemimpin di Indonesia menyadari hakikat sesungguhnya dari seorang pemimpin yakni pelayan, pelayan bagi rakyatnya. Maka sudah selayaknya para pemimpin bangsa melayani dan mengayomi rakyatnya, bukan sebaliknya memakan uang rakyat demi kesenangan pribadi.
                Semua karakter kepemimpinan yang didambakan oleh masyarakat Indonesia tidak akan membawa bangsa menuju kesejahteraan apabila hakikat dan intisari menjadi seorang pemimpin itu tidak dimiliki oleh para pemuka bangsa. Hakikat pemimpin yang harus menjadi pelayan masyarakatnya serta moralitas dan integritas yang baik akan menciptakan pemimpin-pemimpin besar yang membawa Indonesia menuju masyarakat beradab yang adil dan makmur.

Tidak ada komentar: