Kamis, Agustus 16, 2012

YOU ONLY LIVE ONCE

“Gara-gara aku, kamu jadi tidur, lama dan tak pernah bangun kembali, maafin aku llut...” Batin Vinka sesaat sebelum pingsan karena mendengar perkataan dokter bahwa sahabatnya Chillut telah meninggal dunia.
***
Di pemakaman.
                Air mata Vinka terus menetes di gundukan tanah merah itu, punggungnya berguncang karena isak tangisnya yang keras. Vinka terlalu muda untuk kehilangan seorang sahabat, apalagi sahabat itu rela mati untuk menyelamatkannya.
                Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa Chillut atau Chilla Putri Atmanegara. Chilla dan Vinka baru saja lulus SD, hal ini membuat Vinka mengalami jatuh mental, dia selalu menyalahkan kematian sahabatnya itu karena dirinya. Dia menjadi pribadi yang sangat tertutup. Namun Vinka tetap anak yang baik dan penurut, dia hanya tak ingin membuat sahabatnya yang sudah tiada itu merasa dilupakan. Oleh karena itu dia menjadi orang yang tertutup dan kesepian agar sahabatnya di alam sana tidak merasa sendiri menghadapi kesendiriannya. Sampai pada suatu waktu...
***
                “Istirahaaat di tempaaat!!!GRAKK!!” Seruan sang pemimpin upacara Senin pagi itu. Para peserta upacarapun seketika terdiam. Dipandangnya sosok yang berada di mimbar upacara itu dengan penuh antusias. Dirabanya saku depan bajunya dan dikeluarkan sebuah kertas. Beliau kemudian membuka kertas yang terlipat itu dan mulai membuka suara.
                “Assalamu’alaikum Warrahmatullahiwabarakatuh,..selamat pagi sekalian, salam sejahtera bagi kita semua.” Kepala sekolah memberikan jeda agar para peserta upacara dapat membalas salamnya.
                “Hari ini bapak akan memberikan beberapa pengumuman penting untuk kita, salah satunya adalah yang berkaitan dengan siswa kelas tiga. Pengumuman pertama, selamat atas Tim Basket SMA kita yang mendapatkan gelar juara pertama di Laga SMASA CUP 2011,” sontak para siswa bertepuk tangan meriah sambil berteriak gembira. “Yang kedua, les harian dalam rangka mempersiapkan UN untuk kelas tiga dimulai pada minggu besok, Kemudian yang ketiga, UN dilaksanakan mulai tanggal 18 April 2011 hingga 21 April 2011, informasi selengkapnya akan diberikan pada sosialisasi UN 2011 besok. Tadi adalah beberapa informasi yang penting bagi sekolah kita, terimakasih atas perhatiannya, Wassalamu’alaikum Warrahmatullahiwabarakatuh...” kepala sekolah mengakhiri pembicaraannya di mimbar. Tak lama kemudian, upacara selesai dan pasukan dibubarkan.
                Dari SMP sampai SMA Vinka tidak pernah punya teman dekat. Semua yang kenal dengan Vinka pasti tahu tentang kisahnya dengan sahabatnya, Chillut, jadi siapapun yang dekat dengan Vinka agak sedikit kaku karena peristiwa itu. Namun ada seorang teman yang sangat menyukai Vinka dan ingin sekali dekat dengannya, namanya Guntur. Guntur Cuma seorang murid SMA yang sederhana, bahkan saking sederhananya, tiap kali pulang sekolah dia harus membantu ekonomi keluarga dengan menjadi karyawan sebuah toko elektronik. Dia merasa kasihan dengan Vinka yang selalu sendirian, namun dibalik rasa kasihannya itu Guntur adalah orang yang tulus kepada setiap temannya. Guntur satu-satunya teman yang suka menyapa Vinka, selalu duduk dibelakang Vinka di kelas, mengajaknya bicara walaupun pada akhirnya hanya dibalas dengan sikap judesnya. Tapi Guntur tidak pernah putus asa untuk menjadi teman Vinka.
                Mereka sekarang sudah kelas tiga SMA, kurang beberapa bulan lagi mereka akan melaksanakan Ujian Nasional, namun Guntur terkenal lambat dalam menerima pelajaran hal ini dikarenakan konsentrasinya yang terbelah dua antara belajar dan membantu keluarga. Nilai ulangannya selalu jeblok dan tak pernah mengalami peningkatan. Satu-satunya hal yang membuatnya bersemangat adalah pelajaran olahraga dan obsesinya untuk jadi teman Vinka yang makin sulit tapi makin menantang. Hari ini sekolah pulang cepat karena ada persiapan untuk rapat komite. Karena jarang sekali ada libur mendadak, semua siswa pulang dengan tenang dan beristirahat di rumah.
***
                Malam itu Vinka tidur lebih awal karena dia merasa lelah belajar seharian. Vinka merasa ada yang aneh malam itu, tidak seperti biasanya, malam itu terasa tenang sehingga Vinka terlelap cepat. Dalam tidurnya Vinka mendapatkan sebuah mimpi. Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Vinka, sungguh tak terduga, pada mimpi itu dia bertemu dengan Chillut. Dalam mimpinya dia berubah menjadi dirinya semasa kelas 6 SD lagi, dalam mimpinya Vinka berjalan lurus menuju matahari terbenam yang menyilaukan sebuah ayunan didepannya, namun, semakin mendekat ternyata di ayunan itu ada seorang gadis yang bertubuh seukuran dengannya yang tak lain adalah Chillut. Vinka sangat senang bisa bertemu sahabat kecilnya itu.
                “Pinkaaa!!!” Sapa Chillut.
                “Chillut, ini beneran kamu lut?” Tanya Vinka tak percaya.
                “Iya, ini aku. Kata Chillut ceria.” Mereka berpelukan dan terlihat menukar posisi. Sekarang gantian Vinka yang berada di papan ayunan dan Chillut mendorongnya dari belakang.
                “Kenapa baru sekarang menjumpaiku lut?” Tanya Vinka sedih.
                “Oh,itu...gak kenapa-kenapa, cuma pingin ngetes kamu aja, kira-kira kamu masih inget gak sama aku kalau kita lama gak jumpa.” Kata Chillut.
                “Gimana aku bisa nglupain kamu llut, kamu tuh sahabat sekaligus penyelamatku, tapi waktu itu kamu gak perlu nyelamatin aku llut,kalau akhirnya jadi seperti ini, kamu malah pergi dan aku sendirian di dunia itu.” Kata Vinka
                “Pin, udahlah, aku ini sahabat kamu, udah sewajarnya sebagai sahabat rela berkorban demi sahabatnya, dan inget kamu gak perlu jadi seperti sekarang ini,menutup diri dan menghindar dari teman-temanmu.” Kata Chillut.
                “Itu karena aku takut llut, aku takut punya teman sebaik kamu lagi, tapi malah aku yang nyakitin mereka, sama seperti aku nyakitin kamu.” Kata Vinka lirih.
                “Hei, kata siapa aku tersakiti, justru aku bangga bisa menyelamatkan sahabatku, malaikat disini juga bilang aku orang baik, aku bisa masuk surga katanya, karena aku tulus Vin, aku sayang kamu. Pliss, kamu nikmati masa remaja kamu, cari teman sebanyak-banyaknya, buat dirimu bahagia, buat orang tuamu bahagia, dan jadilah seseorang yang bisa mengubah dunia.” Kata Chillut pelan. Vinka hanya membalas perkataan itu dengan tatapan kosong. Ayunan itu kini semakin pelan dan kehadiran Chillut sudah tidak terasa.
                “Llut, trus aku harus gimana?” Tanya Vinka. Tiba-tiba ada suara menggema di langit.
                “Kamu cuma hidup satu kali Vin,aku gak ingin sahabat yang aku sayangi menderita karena aku, hiduplah seperti anak-anak yang lain, jangan terlalu larut dalam kesedihan, kamu udah lihat kan, aku disini baik-baik saja. Ini jadi gak adil ketika disini aku bahagia namun di kenyataan kamu selalu bersedih. Vinka aku sayang kamu,..jadilah gadis yang ceria.” Kata Chillut, nya semakin memudar menggantung di langit senja itu. Vinka merasa terharu dengan pertemuan ini dan ia menangis dalam mimpi serta kenyataannya.
                Hari ini adalah hari ketiga setelah mimpi Vinka. Vinka masih bingung harus bagaimana dengan teman-temannya. Dalam lamunannya saat berlari Vinka tak tahu bahwa ia sedang diteriaki oleh teman-temannya.
                “Vinkaa!!!awas bola!!! teriak teman-temannya.” Vinka baru tersadar dari lamunannya namun saat ia menoleh ke arah datangnya bola. Bola itu lebih dahulu mengenai dahinya. Karena bola itu datang sangat cepat dan berbenturan keras, Vinka pingsan dan dibawa ke UKS. Guntur dan Bella tertinggal di UKS, mereka menunggu temannya itu sadar dan tak lama kemudian Vinka siuman.
                “Ambilin teh anget Bel.” Kata Guntur.
                “Okeh, tunggu sebentar ya Vin, Gun.” Kata Bella. Bella kemudian pergi.
                “Aku ambilin minyak angin ya Vin.” Kata Guntur
                “Tunggu Gun,” Vinka bangun dan berusaha duduk.
                “Ada apa Vin?” Tanya Guntur agak kaget karena baru pertama kali Vinka mengajaknya bicara.
                “Ehmm,..kamu mau gak jadi temenku?” Tanya Vinka mantap.
                “Maksudnya Vin?” Tanya Guntur bingung.
                “Iyaa,...jadi temanku, selama ini kan aku gak punya teman.” Kata vinka
                “Gak kamu minta pun aku sudah jadi temanmu selama ini Vin.” Guntur menambahkan.
                “Jujur, tadi aku mengharap lebih lho Vin! Haha!” Canda Guntur.
                “Lebih? Maksudnya gimana?” Tanya Vinka
                “Kamu gak ngerti?” Tanya Guntur dan Vinka menggeleng. “Ya udah deh kalo gitu, kita temenan aja yha! Haha.” Tambah Guntur.
***
                Setelah permintaan pertemanan itu Guntur dan Vinka menjadi teman akrab, keduanya melewati hari demi hari dengan kegiatan yang sangat banyak, mulai dari les, try out dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Vinka selalu mengajari Guntur tentang mata pelajaran di sekolah, kadang dia juga ikut membantu Guntur menjaga toko sambil belajar juga. Vinka juga sudah kenal dengan orang tua Guntur dan adik-adiknya yang banyak yang menyebabkan Guntur harus bekerja keras selama ini. Vinka merasa kasihan dengan keadaan ekonomi Guntur dan meminta orang tuanya untuk memperkerjakan orang tua Guntur di pabrik milik orang tua Vinka. Kehidupan Guntur mulai stabil, dia tidak perlu bekerja lagi di toko karena penghasilan orang tua sudah cukup untuk kehidupan sehari-hari. Karena Guntur sebenarnya anak yang rajin, prestasinya di kelas mulai diperhitungkan. Kini dia belajar karena dia sadar bahwa itu adalah kewajibannya sebagai seorang murid, jadi Vinka tidak perlu memaksanya untuk belajar bersama. Sama halnya dengan Vinka, lambat laut kehidupan remajanya yang dulu kosong mulai terisi. Satu persatu teman-teman dikelasnya kini mengenal Vinka dengan baik, karena Vinka sebenarnya memang anak yang baik hati. Kini perjuangan mereka untuk menembus ujian nasional kian mendekat dan mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
                5 bulan berlalu sampailah mereka pada puncak kehidupan di bangku SMA, 18 April 2011, hari pertama Ujian Nasional. Sekolah sangat tenang hari itu begitu juga dengan tiga hari berikutnya, kini perjuangan mereka telah dilaksanakan tinggal menunggu pengumunan hasil Ujian Nasional. Satu bulan berlalu, SMA Vinka lulus 100 persen. Rata-rata nilai Guntur juga mengejutkan guru-guru disana. Atmosfir bahagia ini tidak akan pernah dilupakan sampai kapan pun, perjuangan dan kerja keras Guntur akhirnya terbalas dan semua ini berkat Vinka.
                Satu hari sebelum acara perpisahan di SMA nya Vinka bermimpi lagi bertemu dengan Chillut. Kali ini mimpi Vinka tanpa diselingi dialog apapun. Vinka bertemu Chillut di suatu taman, kemudian Chillut membawanya berlari menuju matahari terbenam. Tak peduli apa makna dari mimpi itu, di hari yang sangat ditunggu-tunggu siswa kelas tiga ini, Vinka berangkat dengan semangat. Hari ini dia dijemput sahabatnya Guntur ke gedung diselenggarakannya acara perpisahan itu. Guntur membawa sepeda mini ibunya untuk memboncengkan Vinka. Jalanan tidak begitu ramai hari itu dan gedung yang dituju juga tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan itu mereka sempat mengobrol.
                “Vin, apa sih yang membuat kamu berubah secara tiba setelah pingsan dulu?” Tanya Guntur mendahului.
                “Oh itu, tiga hari sebelum kejadian itu aku mimpi ketemu sahabatku Chillut yang sudah meninggal, dia bilang aku harus berubah, karena di dunianya Chillut baik-baik saja dan bahagia, dan aku harus merasa bahagia juga disini. Dia bilang, aku harus bisa mengubah dunia, tapi itu sulit, emangnya aku ini superhero atau ilmuan, hanya itu yang aku gak bisa lakuin, mengubah dunia.” Kata Vinka.
                “Oh, ternyata karena itu, terimakasih ya sahabatnya Vinka, gara-gara kamu Vinka mau bicara sama aku dan jadi deket seperti ini, kekeke.” Canda Guntur
                “Hiii,...apaan sih,...biasa aja dong!” Balas Vinka.
                Beberapa saat kemudian mereka sampai ke gedung yang dituju. Acara perpisahan berlangsung sangat meriah dan mengharukan. Acara selesai dan para siswa keluar ruangan untuk foto bersama dan pulang. Vinka terlihat sedang menunggu Guntur di tepi jalan. Pada saat itu Vinka melihat ada seorang anak kecil yang akan menyeberang jalan namun di sebelah kanannya melaju mobil yang sangat kencang, dengan refleks Vinka berlari untuk menyelamatkan anak kecil itu,beruntung mobil itu bisa menghindar, namun naas, tidak dengan mobil dibelakang mobil pertama, mobil itu terlalu kaget untuk berhenti dan jadilah Vinka tertabrak mobil namun untung si anak kecil tadi selamat karena Vinka sudah mendorongnya ke tepi jalan. Guntur yang baru saja keluar dari gedung, melihat sendiri kejadian itu. Tubuh Vinka terguling di kap mobil dan kepalanya jatuh membentur aspal sangat keras, darah bercucuran di kepala Vinka, mobil yang menabrak Vinka bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit.
                Empat jam setelah masuk ICU, Vinka dikabarkan tewas. Dan sore harinya Vinka dimakamkan. Orang tua Vinka dan Guntur amat sangat terpukul dengan peristiwa ini. Mungkin inilah jawaban dibalik mimpi Vinka tentang Chillut. Pergi ke alam yang damai bersama-sama.
Di pemakaman
                “Vin, maafin aku, sebagai teman gak bisa menjagamu, aku menyesal Vin, tapi aku sangat bersyukur bisa mengenalmu lebih dekat walaupun cuma sebentar,...sekarang aku tahu apa maksud Chillut degan mengubah dunia. Kamu udah berhasil Vin, kamu telah mengubah satu dunia jadi lebih baik, kamu tahu? Itu duniaku Vin, kamu telah membuat duniaku jadi lebih baik. Makasih Vinka telah hadir dalam hidupku, aku akan melanjutkan perjuanganmu yang telah mengubah hidup dan duniaku jadi lebih baik. Selamat tinggal kawan, semoga kamu mendapatkan kedamaian di alam yang sana.”
                Guntur pergi meninggalkan makam Vinka dan menaruh buket bunga serta foto kelulusan mereka berdua. Meninggalkan Vinka dalam damai, melangkah melawan arah matahari terbenam.
-          END       -

Tidak ada komentar: